Teka Teki Kehidupan

July 26th, 2008 by esa-usakti

Seorang pemuda bernama Abdi bingung karena kedua orang tuanya terus memaksanya untuk cepat menikah. Ibunya selalu bertanya,” Kapan kamu menikah? Ibu sudah merindukan seorang cucu.”

Abdi bingung bukan karena ia tidak memiliki calon. Abdi bingung juga bukan karena ia belum siap untuk menikah. Abdi bingung justru karena ia sudah memiliki calon, tepatnya dua calon. Abdi bingung menentukan siapa yang cocok untuk menjadi istrinya. Ada Astrid dan Rani. Keduanya adalah perempuan yang baik hati. Keduanya rajin solat lima waktu. Keduanya baik hati dan suka menolong. Singkatnya, kedua perempuan itu memiliki hati yang sangat istimewa. Paling penting, keduanya mencintai Abdi dengan tulus.

Perbedaan mencolok dari keduanya: Astrid adalah seorang perempuan yang cantik sementara Rani adalah seorang perempuan yang kaya raya.

Astrid memiliki wajah yang begitu cantik dan tubuh yang aduhai. Sejak dulu Astrid selalu menjadi kembang desa dan karena kecantikannya Astrid sering kali dibandingkan dengan para artis sinetron ibukota. Sementara itu Rani adalah anak tunggal dari seorang pengusaha ekspor impor yang sangat sukses. Ayahnya sudah tua dan sebentar lagi akan mewariskan seluruh kekayaannya kepada Rani.

Abdi bingung memilih Astrid atau Rani. Abdi pun memutuskan untuk bertanya kepada Orang Bijak.

Abdi harus menempuh perjalanan yang melelahkan untuk bisa menemui Orang Bijak. Sungai dan gunung harus dilewati dengan berjalan kaki. Selama perjalanan udara sangat tidak bersahabat. Kalau siang udara terasa begitu panas sementara di malam hari udara menjadi begitu dingin. Abdi menghabiskan waktu tiga hari dan dua malam hingga akhirnya sampai di tempat pertapaan Orang Bijak.

Abdi pun segera menceritakan masalah yang sedang ia hadapi. Orang Bijak mendengar cerita Abdi dengan seksama. Akhirnya Orang Bijak berkata, “Mudah saja.”

Abdi pun tersenyum. “Jadi saya harus memilih yang mana?”

Orang Bijak langsung menjawab, “Pilih yang kaya!”

Abdi menjadi bingung. Ia merenungi jawaban Orang Bijak untuk sesaat lalu bertanya, “Kenapa mesti yang kaya? Rani memang baik, tapi Astrid juga baik dan ia sangat cantik. Sumpah deh. Jadi yang kaya nih?”

“Iya yang kaya,” jawab Orang Bijak dengan sangat yakin.

“Tapi nanti saya dibilang cowok matre lagi. Tengsin dong.”

“Yah itu kan omongan orang, cuekin saja. Kalau kamu pilih yang cantik itu namanya egois,” ujar Orang Bijak. Kali ini ia menjawab sembari memejamkan kedua matanya.

“Loh kok egois?” Tanya Abdi penasaran dengan jawaban Orang Bijak.

Orang bijak lalu menjawab, “Iya egois. Karena kalau kamu memilih yang cantik hanya kamu yang bisa menikmati kecantikannya. Itu namanya egois. Orang lain seperti keluarga dan teman kamu tidak mendapat apa-apa, yang ada justru membuat orang lain iri. Sementara kalau kamu memilih yang kaya kamu bisa menggunakan hartanya untuk berbuat baik kepada orang lain. Kamu bisa membantu keluarga kamu, orang miskin, dan anak yatim.”

“Jadi saya harus menikahi yang kaya?” Tanya Abdi sekali lagi.

“Iya yang kaya!” Jawab Orang Bijak dengan penuh keyakinan tinggi.

Pesan moral dari tulisan di atas: Jangan datang ke dukun (Orang Bijak) untuk urusan cinta )

http://guebukanmonyet.com/SBY Masih Lebih Baik

July 26th, 2008 by esa-usakti

Salah satu sahabat terbaik saya Andri Gilang menulis di blognya bahwa ia akan memilih Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Pemilu 2009 nanti. Alasannya, SBY telah mempimpin Indonesia ke arah yang lebih baik.

Saya berada di belakang Andri Gilang dan berjanji akan mencoblos SBY di Pemilu 2009. Bukan karena SBY adalah seorang pemimpin idola saya, dulu mungkin, tapi karena tidak ada lagi sosok pemimpin yang mumpuni.

Siapa lagi selain SBY? Tokoh-tokoh lama seperti Megawati, Gus Dur, atau Wiranto semakin lama semakin terdengar membosankan. Setidaknya SBY tidak terdengar “kosong”.

SBY memang bukan pemimpin sehebat Winston Churchill, Nelson Mandela, Martin Luther King, atau bahkan Barrack Obama. Para pemimpin besar dunia tersebut memiliki karisma yang menggetarkan dan mampu memberikan pidato yang mampu menggerakan emosi para pendukungnya.

Sementara pidato SBY biasanya membosankan dan membikin ngantuk. Saya langsung berdiri dan bertepuk tangan setiap kali SBY memberikan pidato tanpa teks.

SBY sering kali dinilai lamban dalam mengambil keputusan oleh para lawan politiknya. Kondisi ini mungkin ada kaitannya dengan darah Jawa yang mengalir di tubuhnya atau mungkin karakter pelan-pelan asal kelakon memang sudah menjadi karakternya dari dulu.

Namun begitu, apabila dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain saya pribadi merasa SBY masih lebih baik. Ibaratnya, SBY adalah yang terbaik dari yang terburuk.

Saya tidak bisa membayangkan apabila Indonesia kembali dipimpin oleh Gus Dur atau Megawati. Masa lalu membuktikan mereka bukan pemimpin yang mampu memberikan perubahan yang diinginkan oleh rakyat. Jangan salah, saya adalah seorang pendukung Gus Dur tapi menurut saya ia lebih cocok berada di luar lingkungan pemerintah.

Banyak orang di Indonesia memimpikan kembalinya masa kepemimpinan Sukarno atau Suharto. Bagi yang cocok dengan gaya Bung Karno yang berani dan membara mereka merasa SBY terlalu lama dan lamban. Sementara bagi yang cocok dengan gaya Pak Harto mereka merasa SBY kurang tegas dan disiplin terhadap para pengacau.

Saya sendiri, kalau boleh memilih, menginginkan seorang sosok pemimpin yang memiliki gabungan karakter Bung Karno dan SBY. Seorang pemimpin yang berani bersuara lantang terhadap penjajahan model baru yang diterapkan oleh dunia Barat. Seorang pemimpin yang mampu memberikan orasi yang membuat bulu kuduk ini berdiri sambil berteriak bangga akan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia.

Di saat yang bersamaan, saya ingin seorang pemimpin yang bijaksana, lemah, dan lembut dalam menghadapi segala perbedaan yang ada di Indonesia. Pemimpin yang tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.

Presiden impian saya bernama Sukarno Yudhoyono.

Sayang saat ini mimpi itu tidak mungkin terjadi. Jadi, yah mari kita pilih SBY di Pemilu 2009.

Gue Gak Butuh Lo, Monyet!

December 1st, 2007 by esa-usakti

Untuk kalian masyarakyat miskin Jakarta, mau sampai kapan kalian menjadi sekumpulan orang yang tidak punya harga diri dan rasa percaya diri? Mau sampai kapan kalian menjadi sekumpulan orang yang bisanya cuma disuruh-suruh kayak babu? Mau sampai kapan kalian menjadi sekumpulan orang yang bodoh dan terbelakang yang bisanya cuma manggut-manggut sok ngerti? Sudah cukup.

Untuk kalian masyarakat kaya Jakarta, apa sudah sejelek itukah gambaran Jakarta di dalam benak kalian? Sudah sedemikian hinakah Jakarta sehingga layak untuk terus dicela dan dicemooh? Kenapa setiap kali kita bertemu, kalian hanya berkeluh kesah tentang susah dan beratnya hidup di Jakarta? Mulai dari macetnya yang gak ketulungan, banjirnya yang tidak ada habisnya, para polantas dan pejabat Pemdanya yang pada mata duitan, hingga harga barang-barang yang makin hari makin mahal saja. Kalau sudah begini, pantas saja Jakarta menjadi sebuah kota yang amat tidak nyaman untuk ditinggali. Bandingkan dengan kota lain di negara-negara maju seperti Paris di Perancis atau Tokyo di Jepang, mengapa kota-kota tersebut bisa menjadi begitu indah dan nyaman? Setiap kali kalian berlibur kesana, hati kalian berbunga-bunga dan setiap momen terasa begitu luar biasa sehingga sayang untuk tidak diabadikan melalui kamera digital kalian.

Kalau memang sudah tidak betah hidup di Jakarta kenapa kalian tidak pergi saja ke kota lain dan memulai hidup baru? Kenapa kalian tidak mengotori kota lain saja seperti Bandung, Semarang, Surabaya, atau Medan? Kenapa kalian tidak menyetir mobil ugal-ugalan di tempat lain layaknya orang gila yang selalu kalian lakukan di jalan-jalan utama dan tol di Jakarta? Pergi saja ke tempat lain dan langgar semua peraturan yang ada, langgar dan langgar terus. Terobos saja lampu merah, toh polisi sedang tidak nongkrong. Merokok saja seenak jidat kalian seperti yang biasa kalian lakukan sehari-hari di Jakarta, merokok di tempat-tempat umum dan pura-pura tidak lihat kalau ada orang yang batuk karena menghirup asap rokok kalian.

Jakarta tidak butuh orang-orang yang maunya menang sendiri. Jakarta tidak butuh orang-orang egois yang taunya cuma bagaimana mengumpulkan uang sebanyak mungkin lalu berperilaku seenaknya di dalam lingkungan masyarakat. Jakarta tidak butuh orang-orang pintar yang saking pintarnya justru tidak tahu kalau pembangunan mall dan trade center sudah melewati batas sehingga tidak ada lagi kawasan hijau di Jakarta. Jakarta tidak butuh orang-orang sok suci yang apabila bertemu masyarakat miskin selalu menyebut nama Tuhan sembari menjanjikan peningkatan kesejahteraan padahal kalian tahu kalau semua itu hanya bohong belaka.

Sudah, tutup mulut dan kemas barang-barang kalian. Pergi jauh-jauh dan jangan pernah kembali lagi. Jangan pura-pura menyesal serta minta maaf karena dosa kalian sudah menumpuk, hanya Tuhan yang tahu. Sudah, hentikan basa-basi itu lalu mulai tinggalkan kota ini, tinggalkan. Tinggalkan, kami sudah lelah dengan gaya kalian yang petantang-petenteng sok jagoan, dengarkan ini baik-baik, “Gue gak butuh lo, monyet!”

GILA..Keren Ga tuh? gw kutip kata" ini dr alumnus TRISAKTI yg namanya "TAZA NUGRAZA"… liat profile dia di www.guebukanmonyet.com untuk baca artikel dari pemikirannya yg lebih yahud.